Terketuk (Lagi)

Pintu yang sudah usang terketuk kembali.

Lebih dari satu windu ia enggan bersentuhan dengan si pemilik ruang.

Lantas? Entah. Ia terketuk dan terbuka. Mungkin ia jengah karena tiap kali membuka hari ada sesuatu yang salah dengan ketertutupan itu.

Udara memang tak lagi sama. Begitu pula dengan si pemilik ruang yang tak lagi sama.

Lantas? Entah. Kelampauan itu terlalu indah untuk digelengkan.  

Kunci pintu itu masih sama: rasa. Rasa yang tidak bisa berkilah meski lebih dari satu windu menghilang.

Lantas? Entah. Biarkan rasa ini bermuara ke mana ia hendak berpulang.

Jangan kau tanyakan akhirnya. Jika kau tahu, ini bukanlah lagi kisah melainkan sebuah penyesalan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: