“Manusia dan kewarasan”

 

Apabila Plato mengidam-idamkan manusia yang cinta pada kebenaran, keindahan, dan kebaikan, aku mengidam-idamkan menjadi manusia yang waras. Jika aku menjadi salah satu murid Plato, mungkin aku akan bilang: manusia memang harus menuju pada cinta akan kebenaran dan kebaikan. Namun, untuk menuju ke situ pertama-tama manusia harus waras.

Pertama, waras bahwa dirinya adalah manusia dan bukan hewan. Ia tahu bahwa dirinya mempunyai ciri-ciri fisik sebagai seorang manusia. Yang lebih terpenting yang menjadi point kedua, ia juga tahu dan melakukan tindakan-tindakan yang sesuai dengan identitasnya sebagai manusia.

Persentase mutlak semua dari kita paham betul bahwa kita adalah manusia. Namun, tidak seratus persen manusia waras akan labelnya sebagai manusia.

Manusia, menurut filsuf kenamaan itu, menginginkan manusia bisa mempunyai cinta. Bukan sembarang cinta, tapi cinta akan Yang Ilahi dan Yang Baik. Manusia mempunyai jiwa yang menjadi prinsip hidup dan kesadaran, mengalahkan badani. Hakikat tertinggi manusia yang tidak satupun bisa dibantah. Siapa yang tidak mau hidup luhur lagi mulia seperti itu?

Ya, keluhuran  hanya bisa dipenuhi oleh manusia yang waras. Bukan badannya yang waras, tapi jiwanya. Jiwa yang waras akan mendorong manusia tersebut enggan untuk mencuri meski ia mempunyai kesempatan untuk melakukan hal tersebut. Jiwa yang waras akan mendorong manusia untuk mengatakan tidak meski ia digoda dengan perantara seribu bidadari. Jiwa yang waras akan selalu memiliki rumah untuk pulang, yaitu kebahagiaan.

Apakah aku sudah waras? Aku berjuang untuk waras. Aku berjuang untuk melawan ketidakwarasan. Kewarasan tidak datang dengan sendirinya dalam kondisi gelas yang terisi penuh. Jatuh bangun jatuh bangun dan jatuh lagi sudah lagu lama yang menjadi intro. Berusaha untuk kembali waras dengan bangun kembali adalah chorus. Merawat kewarasan yang sudah ada adalah reff.

Apakah mudah? Tentu tidak. Karena hal yang mudah hanya ilusi kawan. Bahkan kita harus berjuang untuk mencapai orgasme, entah itu sendiri ataupun dengan partner.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

“Manusia dan Waktu”

 

Seseorang sangat menyukai waktu. Ia bilang, waktu adalah segalanya. Iya, aku pun sependapat. Segala hal di kosmos ini, hanya waktu yang tidak bisa dibeli. Ia berjalan melenggang tanpa peduli. Pun, waktu menjadi unsur yang arogan. Ia bisa merenggut kebahagiaan seseorang dalam hitungan detik. Ia juga bisa memberikan kenikmatan dalam hitungan detik, layaknya orgasme.

Semua orang ingin menguasai waktu. Coba lihat, apa yang ingin didapat seseorang yang rela mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk bisa memimpin suatu wilayah? Sederhana, waktu untuk ia bisa menjadi manusia yang berkuasa meskipun hanya lima tahun. Lima tahun agar bisa “menguasai” waktu dengan segala isinya. Tak apa pukul kiri kanan tebar senyum depån belakang.

Sejatinya, bukan unsur waktu-nya yang menjadi inti. Waktu hanya sebatas permainan semesta yang dimaknai oleh manusia, yaitu harapan. Dalam waktu manusia berharap hidupnya ke depan akan lebih baik. Dalam waktu manusia berkeinginan agar mimpinya menjadi kenyataan. Terwujud atau tidak, itu perkara lain. Namun, dalam waktu manusia berkeinginan untuk bangun setiap hari dari tempat tidurnya dengan doa pagi: semoga hari ini lebih baik daripada kemarin. Seolah-olah waktu hari ini bisa berbeda dari waktu kemarin. Seolah-olah hari ini bisa tersenyum kemudian tertawa.

Harapan adalah bualan waktu. Mari Aku akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, kira-kira itu yang Tuhan janjikan dalam Kitab Pengkhotbah 3:11. Entah itu yang dinamakan iman atau kodrat manusia untuk melihat adanya harapan di dalam setiap detik waktu yang diberikan, toh manusia tetap melakoni setiap drama kehidupan. Kalau tidak, ia sudah bunuh diri karena harapannya mati.

Ada satu pernyataan Driyarkara dalam buku yang aku baca akhir ini tentang waktu. Katanya, kita tidak bisa berpikir kecuali dengan dan dalam waktu. Betapa perkasanya waktu bukan? Ia menguasai kapan dan di mana saja melalui pikiran.

Aku tidak mau menyebut paragraf-paragraf ini tulisan. Anggap saja coretan tentang seorang manusia yang sedang merenung tentang perjalanan waktu. Tentang harapan yang sedari dulu, sekarang, dan semoga esok terus ada akan waktu.

Selamat sore, waktu!

“Manusia sejati-jatinya ingin mengerti, harus mengerti, dan dipaksa untuk mengerti.”

 

Namun, tak semua hal bisa dimengerti. Seperti, aku yang hingga saat ini mesih tidak tahu mengapa aku harus berkata tidak terhadap hal-hal buruk dan berkata iya terhadap hal-hal baik.

Bukankah hal buruk juga perlu ada agar manusia tahu nikmatnya kebaikan? Bukankah buruk hanya soal penamaan saja yang tidak setiap orang mempunyai arti yang sama? Mengapa aku harus menghindari buruk? Apakah baik adalah sesuatu yang pas untukku?

Sama seperti masalah. Aku, si manusia, pun ingin mengerti masalah. Berulang-ulang berpikir keras untuk memahami suatu masalah. Padahal, kadang si masalah melenggang bebas pergi tanpa perlu dibahas. Lebih baik melihat adanya masalah tanpa ada pemecahan daripada tidak melihat sama sekali adanya masalah bukan?

Ya, manusia karena manusia sedalam-dalamnya mempunyai hasrat untuk mengerti. Lebih baik berhasrat daripada berpura-pura untuk berhasrat.

 

Pintu yang sudah usang terketuk kembali.

Lebih dari satu windu ia enggan bersentuhan dengan si pemilik ruang.

Lantas? Entah. Ia terketuk dan terbuka. Mungkin ia jengah karena tiap kali membuka hari ada sesuatu yang salah dengan ketertutupan itu.

Udara memang tak lagi sama. Begitu pula dengan si pemilik ruang yang tak lagi sama.

Lantas? Entah. Kelampauan itu terlalu indah untuk digelengkan.  

Kunci pintu itu masih sama: rasa. Rasa yang tidak bisa berkilah meski lebih dari satu windu menghilang.

Lantas? Entah. Biarkan rasa ini bermuara ke mana ia hendak berpulang.

Jangan kau tanyakan akhirnya. Jika kau tahu, ini bukanlah lagi kisah melainkan sebuah penyesalan. 

Its been a long time since the last time I opened my blog (around one year I guess). Somebody told me  its quite a long time for me to not open my blog. I feel ashamed. 

How’s life then?

When I’m writing this blog, I’m in bangka now. When I see sky, I still can see a clear blue sky. Thanks God! What a gorgeous universe! Under this sky, I still can breath, cry, yell, and pray. Sorry universe, (actually) I frequently yell and stare at you with some curiosity that obviously makes you dizzy.

How’s life then?

I have been struggling to reach my dream. Doing bla bla bla. Honestly, its not easy. I need to be patient, patient, and patient. Its like a long road without some bus stop. Am I tired? Of course yes. But, I have to do that because that is my goal since ages. Oh my! I hope in the next blog, I will tell a story how awesome my dreams. High five!

But, I’m worrying about life. So many people do stupidity in the name of God. Why? Can you see that? I believe God doesnt need a dozen or a thousand army to make Him alive. He just need human to do some respect towards other. Because that is God’s face: a kind of affectionate people.

I hope in the next twenty years, I still can see a clear blue sky. This tale is like a random story. Sorry. I want to off now. See you (soon) blog!

 

Hai, Selasa 4 Maret 2013.

Aku berpikir satu hal hari ini: aku mungkin bisa bahagia jika aku bisa hidup seperti selayaknya manusia normal: makan, tidur, bekerja, dan bermain. Nyatanya aku tidak bisa.

Aku sudah mencoba untuk bahagia dengan hidup seperti itu. Namun, lagi-lagi namun, aku tidak bisa. Aku mau hidup berbeda. Aku mau tahu sampai kapan idealisme anak kampung serta mimpiku ini bertahan. Aku mau tahu rasa kopi di luar sana. Aku mau tahu rasa menjadi hitam. Aku mau tahu warna lain selain mejikuhibiniu. Aku mau tahu rumah di luar rumahku. Aku mau tahu langit di luar langitku. Aku mau tahu rasa manusia yang berbeda ras denganku.

“Itu semua membuatku jadi manusia yang tidak pernah bahagia.