Pintu yang sudah usang terketuk kembali.

Lebih dari satu windu ia enggan bersentuhan dengan si pemilik ruang.

Lantas? Entah. Ia terketuk dan terbuka. Mungkin ia jengah karena tiap kali membuka hari ada sesuatu yang salah dengan ketertutupan itu.

Udara memang tak lagi sama. Begitu pula dengan si pemilik ruang yang tak lagi sama.

Lantas? Entah. Kelampauan itu terlalu indah untuk digelengkan.  

Kunci pintu itu masih sama: rasa. Rasa yang tidak bisa berkilah meski lebih dari satu windu menghilang.

Lantas? Entah. Biarkan rasa ini bermuara ke mana ia hendak berpulang.

Jangan kau tanyakan akhirnya. Jika kau tahu, ini bukanlah lagi kisah melainkan sebuah penyesalan. 

Its been a long time since the last time I opened my blog (around one year I guess). Somebody told me  its quite a long time for me to not open my blog. I feel ashamed. 

How’s life then?

When I’m writing this blog, I’m in bangka now. When I see sky, I still can see a clear blue sky. Thanks God! What a gorgeous universe! Under this sky, I still can breath, cry, yell, and pray. Sorry universe, (actually) I frequently yell and stare at you with some curiosity that obviously makes you dizzy.

How’s life then?

I have been struggling to reach my dream. Doing bla bla bla. Honestly, its not easy. I need to be patient, patient, and patient. Its like a long road without some bus stop. Am I tired? Of course yes. But, I have to do that because that is my goal since ages. Oh my! I hope in the next blog, I will tell a story how awesome my dreams. High five!

But, I’m worrying about life. So many people do stupidity in the name of God. Why? Can you see that? I believe God doesnt need a dozen or a thousand army to make Him alive. He just need human to do some respect towards other. Because that is God’s face: a kind of affectionate people.

I hope in the next twenty years, I still can see a clear blue sky. This tale is like a random story. Sorry. I want to off now. See you (soon) blog!

 

Hai, Selasa 4 Maret 2013.

Aku berpikir satu hal hari ini: aku mungkin bisa bahagia jika aku bisa hidup seperti selayaknya manusia normal: makan, tidur, bekerja, dan bermain. Nyatanya aku tidak bisa.

Aku sudah mencoba untuk bahagia dengan hidup seperti itu. Namun, lagi-lagi namun, aku tidak bisa. Aku mau hidup berbeda. Aku mau tahu sampai kapan idealisme anak kampung serta mimpiku ini bertahan. Aku mau tahu rasa kopi di luar sana. Aku mau tahu rasa menjadi hitam. Aku mau tahu warna lain selain mejikuhibiniu. Aku mau tahu rumah di luar rumahku. Aku mau tahu langit di luar langitku. Aku mau tahu rasa manusia yang berbeda ras denganku.

“Itu semua membuatku jadi manusia yang tidak pernah bahagia.

“Jika ada yang menanyakan apa agamamu, aku akan menjawab: cinta kasih. “

Bukan. Bukan karena aku tidak mempunyai agama formal. Aku punya. Tertulis di KTP: katolik. Hanya saja aku merasa Tuhan itu tidak punya identitas. Dia tidak menjadi milik, lebih tepatnya memilih enam agama tertentu yang diakui di Indonesia. Dia berdiri independen. Manusia saja yang melabelkan Tuhan menjadi miliknya dengan penamaan tertentu. Semua yang diajarkan keenam agama itu pun sama: cinta kasih. Jadi, aku boleh kan mengatakan agama yang kuanut adalah cinta kasih. Toh, agama itu soal iman dan tidak perlu diumbar-umbar penamaannya bukan?

Aku malu.

Aku malu pada emailku sendiri, engge.kharismawati@gmail.com.

Makhluk maya penyampai pesan itu mengetahui setiap seluk beluk kegelisahanku menunggu sebuah surat yang tak kunjung datang.

Sekalinya datang, surat itu (kembali) tak menyampaikan kabar gembira, seperti layaknya Malaikat Gabriel yang datang kepada Maria.

Lucu bukan jikalau pada waktu itu sudah ada surat elektronik, lantas Tuhan menyampaikan kabar gembiranya kepada Ibu Maria melalui email. Tentu, Maria akan sangat gembira menerima email tersebut.

Sudah. Abaikan khayalanku ini.

 

Aku tak lolos (lagi).

Kalau emailku itu bisa bersuara, mungkin dia akan mengasihani atau memfotoi ekspresi wajah diriku yang menerima email tersebut. Aku pun malu, pada emailku sendiri.

Terimakasih “Malaikat Pengajar Muda” yang telah menyampaikan kabarnya untukku. Aku tidak menganggap itu sebagai kabar sedih. Hanya saja, aku sendiri yang memang berharap “Malaikat Gabriel” akan berpihak padaku. Upayaku pun pada akhirnya tahu diri. Sekali lagi, terimakasih Pengajar Muda, terimakasih engge.kharismawati@gmail.com.

Aku bahagia terlahir di dunia ini;

boleh menjadi salah satu dari miliaran manusia pengisi bumi dengan nama Margareta Engge Kharismawati dan hidup hingga sekarang….

 

Burung merpati itu cantik,

Namun, aku lebih cantik dari merpati saat ini, karena aku tersenyum ketika aku menulis surat ini…..

 

Sudah lama aku tidak tersenyum, dan hebatnya sore ini aku tersenyum…..

Mungkin karena aku menemukan Tuhan adalah titik akhir proses hidup manusia, seperti layaknya air yang akan bermuara di lautan dan matahari yang akan selalu datang setiap harinya tanpa diminta…..

Aku berlari sekuat kakiku berlari, aku berteriak sekuat pita suaraku berteriak, aku menangis sekuat tenaga ragaku. Aku bermimpi sekuat khayalku bermimpi.

Ini adanya dengan sebuah hasil: NOL.

 

(Lagi dan lagi) Bagaimanapun, Tuhan adalah titik akhir manusia. Sekuat apa aku berlari,  Ia adalah angin yang bisa menahan laju lariku. Sekuat apa aku berteriak,  Ia adalah pemilik jagad raya yang bisa membungkam suaraku. Sekuat apa aku menangis, Ia adalah komposer yang memberi nada dan menjuduli setiap tangisanku. Sekuat apapun yang aku lakukan!

Dan sekarang, ketika aku (mencoba) untuk tidak berlari dan berjalan perlahan, aku menemukan sesuatu. Kiri dan kanan, sisi aku berjalan, ternyata mempunyai cerita untukku.

Aku bisa melihat lautan biru dengan ombak yang begitu harmoni. Aku bisa melihat bunga-bunga yang begitu cantik. Aku bisa melihat rerumputan hijau yang menyejukkan mata. Aku bisa melihat alam yang luar biasa dengan isinya. Dan aku juga bisa melihat telaga yang keruh.

Tentu, ketika aku berlari, aku tak akan pernah mengetahui ini.

 

Betapa ajaib hidup ini!

 

Sesuatu yang abstrak. Entah bentuknya kotak, persegi, bulat, atau segi enam. Entah hidup di angkasa, gunung, lautan, bawah tanah, atau rel kereta api. Namun Ia memiliki kuasa atas setiap detail pengisi atas langit dan di bawah langit.

Aku merasakan ini ketika Ia mengambil seorang yang  sangat aku kasihi pada 24 Juni 2011 lalu. Sekuat apa aku bermimpi untuk menahan orang yang aku kasihi untuk tetap hidup bersamaku, Ia datang mengambilnya pergi tanpa permisi.

 

Oh, ajaib hidup ini!

 

Ternyata, apa yang selama ini aku baca di dalam Alkitab dan dalam pelajaran agama di bangku sekolah mengenai Tuhan Yang Maha Kuasa itu benar adanya. Ajaib! Dan, aku rasa keperkasaan Tuhan tak membutuhkan pembelaan dari-Nya  karena Tuhan sendiri  besar adanya.

 

Aku?

 

Hingga tulisan ini aku tulis, aku  masih melihat kiri dan kananku, apakah masih ada cerita untukku ketika aku berjalan perlahan, apakah masih ada gambar yang tertinggal untuk aku rekam dalam kenanganku.

Sampai kapan aku akan berjalan perlahan?

Pertanyaan ini sepertinya bukan kapasitas aku sebagai manusia untuk menjawab, meskipun aku sangat ingin mendapatkan jawaban. Hanya satu jawaban pasti yang kutahu: “Aku ada di dunia ini dengan (hanya) satu masa. Dan, aku berusaha mengisi ada-ku ini hingga akhir masaku.”